IKLAN

Pocong menagih janji


Belum genap 100 hari meninggalnya isterinya, kakak iparku sudah mulai kluyuran lagi, "tukmis" alias tidak tahan melihat "bathuk klimis" mungkin lebih cocok untuk menjuluki "keplayboyan"nya. Mbak  Erni, isterinya meninggal karena kanker leher rahim. Memang sih, ketika isterinya masih segar sampai kemudian sakit dan akhirnya meninggal dunia, kakakku terlihat sebagai laki-laki yang sangat romantis. Keromantisannya juga terlihat ketika jenazah isterinya dimasukkan ke liang lahat, dia berkali-kali jatuh pingsan. Tangisnya luar biasa kencang, seribu janji manis terucap dibibirnya untuk setia sampai mati dengan almarhumah isterinya itu.

Semua iba, semua menaruh hormat,  kecuali  tentu saja aku dan beberapa saudara laki-laki yang tahu persis kelakuan kakak iparku diluaran. "…dik erry, actingnya Jaya boleh juga ya" bisik mas koes sambil melihat gaya kakak iparku yang menangis tersedu-sedu dimakam itu. " gayane koyo film India" seru mas dudik sambil menaikkan kaca mata hitamnya dengan intonasi jengkel. Kami cuma tersenyum melihat gaya mas jaya yang lebay itu, apalagi ketika kakak iparku itu dengan kencang memeluk gundukan tanah basah  sambil berseru "err….errr…erni, kenapa kamu tega meninggalkanku, terus aku bagaimana…?" katanya sambil mengusap-usap kayu nisan yang bertuliskan nama mendiang isterinya itu.

"aku melok kowe wae er…(aku ikut kamu saja er) " rintihnya dengan nada yang dalam. Banyak ibu-ibu yang bertakziah iba, melihat rintihan mas Jaya itu. Sampai-sampai bu faizal dengan tersedu-sedu kemudian jongkok, dan mengelus punggungnya " sudah….sudah nak jaya, ikhlaskan kepergian isterimu itu…kasihan anakmu" katanya. Mas dodik, sebagai sesepuh (yang dituakan) diantara kami, terus menarik tangan mas jaya, dan memintanya segera meninggalkan makam itu. Dengan tersedu-sedu, mas jaya bangkit sambil dipapah mas dodik untuk meninggalkan area makam di daerah tenggilis. Pelan tapi pasti makam itu menjadi sepi kembali.

Aku yang waktu itu kebagian membayar ongkos  penggali kubur dan modin, segera menghampiri "cak di dan  cak ri"  yang telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dengan berbisik aku meminta mereka menjaga makam itu dengan baik sambil kusisipkan beberapa lembar uang 100.000 an untuk mereka. Kemudian aku menggandeng Alya, anak semata wayang dari almarhumah dengan mas Jaya kakak iparku itu untuk bersama-sama meninggalkan lokasi makam yang mulai basah karena hujan kembali turun.



Sudah hampir seminggu lebih kakakku jaya  mengungsi dirumahku, katanya takut karena selalu didatangi pocong. Sebagai adik yang baik, tentu aku dan isteriku menyambut dengan gembira meskipun dengan hati yang bertanya-tanya, benarkah alasannya itu ataukah dia punya maksud lain supaya bisa lebih dekat dengan bu Rita.  Sehari dua hari memang tidak ada masalah. Tapi begitu "tukmisnya" kumat, mulai gangguan pocong itu muncul. Untuk hari kamis ini saja, kemuculan pocong itu sudah lebih dari sekali.

Pertama ketika, dia pulang dari "ngapeli" bu Rita janda cantik yang ngontrak di rumahnya abah Salim.  Begitu keluar dari pintu pagar, belum sampai 10 meter sudah ditampaki pocongan  dibawah pohon mangga persis depan rumah pak darisman. Pocongan itu sengaja menunggu kakakku. Melihat penampakan itu sudah tentu  kakakku lari tunggang langgang sambil teriak "tolonggggggggg ada pocong".

Aku yang mendengar teriakkan itu, tentu kaget bersama bapak-bapak yang lain langsung keluar dari rumah, dan mendapati kakakku jatuh bersimpuh dengan celana yang sudah basah kuyup terkencing-kencing. Dari wajahnya yang pucat , aku sudah tahu bahwa kakakku mesti  diganggu  pocongan itu lagi. Pak hadi dan pak gatotpun langsung menghubungkan dengan kejadian yang terjadi dirumahku beberapa waktu lalu, namun dengan sabar aku meyakinkan mereka, bahwa pocong itu tidak ada hubungannya dengan kejadian sebelumnya.

Setelah diberi minum air putih  bu tutik, kakakku baru bisa cerita kalau  habis diganggu pocong, pocong yang selalu muncul sejak 100 hari meninggalnya isterinya, ya kakak iparku itu. "he…he jadi pak jaya ini selalu diganggu pocong, setiap kali mulai naksir wanita lain ya?!" kata pak gatot setelah mendengar cerita kakakku dengan runtut. Mendengar celetuknya itu, bu tutik dengan nada sewot langsung menjawab" …mangkanya pak, nyebut…jangan asal, wong baru ditinggal isteri belum lebih dari 100 hari saja kok sudah pacaran lagi " katanya sambil masuk ke rumahnya. Kami semua hanya bisa senyum-senyum, sementara kakakku hanya bisa tertunduk malu.

" sudah pak RT, kakaknya diajak kerumahnya gus lutfi saja, barang kali bisa diurai kenapa selalu menemui kejadian seperti itu" kata pak Hadi memberikan saran. Akupun menyanggupi, dan segera membimbing kakakku untuk masuk rumah.



Sampai dirumah isterikupun menanyakan keributan yang ada diluar, akupun dengan sabar menceritakan kejadian yang menimpa kakak kandungnya itu, tentu saja dengan bahasa yang lebih halus dan diplomatis. Takut membikin marah dan juga takut. Sementara mas jaya langsung masuk ke kamar tamu dengan wajah ketakutan. Akupun menyempatkan diri untuk menengoknya "wes mas, tidur dulu saja…jangan lupa sholat isya’ dan banyak-banyak istighfar" kataku. Kakakku hanya diam, diambilnya sebatang rokok sambil membuka jendela kamar lebar-lebar. Akupun segera menutup pintu, dan berjalan ke ruang keluarga untuk melihat TV.

Belum sempat acara empat matanya tukul tayang, sudah terdengar lagi kakakku teriak-teriak lagi. "errrr toloooooong…..tolonggggggg pocongane teko maneh" Mendengar teriakkannya itu, aku dan isteriku langsung berlari ke arah kamar tamu, dengan sigap kubuka pintu. Isteriku langsung menjerit " masya allahhh"  samar-samar kami berdua masih bisa melihat sosok pocong itu yang dengan berani "anguk-anguk (melihat dengan mendoyongkan badannya ke kamar melalui jendela)".

Sekilas sosok itu mirip almarhumah mbak erni, matanya cowong mulutnya yang terbungkus kapas menggumamkan kata-kata yang tidak jelas, namun ekspesinya jelas menampakkan rasa benci yang luar biasa pada kakakku jaya.. Melihat penampakan itu, isteriku hanya bisa menjerit lirih sambil memelukku dengan erat, tangannya basah oleh keringat dingin yang mengucur deras. Sementara mas Jaya terpaku diam di ujung tempat tidur, wajahnya pucat dengan mimik yang sangat ketakutan. Aku kemudian merapalkan ajian qulhu geni, sambil membaca ayat qursi. Pelan tapi pasti pocongan itu mundur, mundur dan hilang tersapu angin.

Sempat tercium bau parfum kesukaan almarhumah. Isteriku terlihat lemas dan hampir jatuh, segera kusaut pinggangnya dan kuajak menjauh dari kamar itu. Pelan kududukkan isteriku dikursi, dan kuambilkan air putih yang sebelumnya kubacakan surah al fatihah, annas dan qulhu. Setelah tenang, dengan terbata-bata isteriku berkata lirih "itu tadi mbak erni ya..mas " , "bukan, itu hanya khodam atau setan yang menyerupainya" kataku tegas. Aku kemudian memintanya untuk membaca Fatihah, Surah annas, falaq, qulhu dan ditutup dengan membaca ayat qursi untuk membuat hatinya tenang dan terhindar dari rasa takut yang berlebihan. Tak seberapa kelihat pintu kamar terbuka, dan dengan tertatih-tatih mas jaya keluar, dan kemudian menggabungkan dirinya di ruang keluarga itu.



Kami bertiga terdiam cukup lama, hanya suara tawa yang khas dari tukul terdengar dari televisi . Setelah reda, aku kemudian menanyakan dengan serius kemunculan pocong yang mirip dengan almarhumah itu. "wes ping telu er…(sudah tiga kali er), yang pertama di Malang, yang kedua diujung gang dan yang terakhir "anguk-anguk" di jendela tadi" katanya lirih. " aku wedi banget (aku takut sekali) er…, pocongan itu muncul setelah aku mulai pacaran lagi"  aku dan isteriku hanya berpandangan, " kurang ajar koen mas " kata isteriku galak " jasadnya mbak erni belum juga hancur…kamu sudah kambuh lagi" teriaknya sambil berdiri

"pantesan mbak erni bangkit dari kubur, lha kelakuanmu ndak berubah, masih untung mbak erni tidak mencekikmu mas.., kalau aku pasti kamu sudah tak cekik sampai mati" katanya emosi sambil masuk kedalam kamar dengan membanting pintu keras sekali. Aku hanya bisa menghela nafas panjang, sikap emosi isteriku mungkin ada benarnya, karena bukan kali ini saja kakak iparku itu mempermainkan wanita. Banyak cerita yang aku dengar darinya, tentang kelakuan kakaknya itu. Semua berujung aib, tuntutan dan juga aborsi.  Melihat reaksi emosi dari isteriku tadi, Mas Jaya hanya bisa diam, pasrah. Akhirnya, dia meminta izin untuk tidur diruang TV saja. Aku mengijinkan, dan kemudian meneruskan menonton TV yang ceritanya sudah tidak menarik lagi. Sampai pagi kejadian horror itu tidak berulang, kakakku Jaya bisa tidur dengan nyenyak.



Paginya, aku memaksanya untuk menemui Gus Lutfi, kyai kharismatik yang sering memberikan tauziah yang menyejukkan hati. Untunglah, pagi itu gus lutfi ada dirumah. Setelah basa-basi sejenak, aku lalu menerangkan maksud dan tujuan menemuinya pagi itu, "begini gus, kakak saya ini sedang dirundung masalah, mohon diberikan wejangan agar hidupnya bisa lebih tenang" kataku takzim. Gus lutfi dengan tajam memandangi kakakku, kemudian beliau mengambil Quran yang ada diatas meja baca dan meminta kakakku untuk berwudlu. Dengan sigap mas Jaya keluar, dan mengambil air untuk berwudlu.

Setelah itu, gus lutfi memintanya mendekat, sambil berkata "..coba njenengan buka salah satu ayat" sambil menyerahkan Quran itu,  dengan tangan gemetar mas jaya membuka Quran itu dan kemudian menyerahkannya kepada gus lutfi kembali. Gus lutfi lalu membuka Quran,  persis di halaman yang sudah ditunjukkan kakakku tadi. "waduh, dunia njenengan itu penuh dikitari wanita ya, bener-benar lelanange jagad (waduh dunia anda itu penuh dikitari wanita ya, benar-benar laki-laki sejati) " katanya dengan mimik jenaka. " …lelananging jagad dos pundi to gus?" timpalku sambil memandang gus lutfi penuh rasa ingin tahu.

"…ya begitulah masnya itu….. mas kaji, penuh dengan petualangan terhadap wanita, lha ini di Quran ini tergambar dengan jelas, koyok nonton sinetron" katanya sambil terkekeh. Akupun ikut tersenyum maklum, sementara mas Jaya tertunduk malu. Setelah itu, gus lutfi berkata dengan nada yang sangat serius " coba mas, sampeyan eling-eling. Apa sampeyan pernah berjanji atau punya salah  pada seseorang, khususnya pada seorang wanita sampai akhirnya dia meninggal dunia?" katanya sabar. "sebab menurut pandangan bathin saya, pocongan yang selama ini mengganggu njenengan  itu kok kelihatannya seorang wanita yang pernah dekat dengan sampeyan?" lanjutnya dengan pandangan tajam kearah kakakku. Deg, kakakku terlihat kaget, rasanya pertanyaan dari Gus Lutfi tadi cukup menghentakkan dadanya.

Wajahnya jadi terlihat pucat. Dengan terbata-bata, kakakku menjawab " ya…gus, saya memang pernah berjanji didepan jasad isteri saya almarhumah untuk tetap setia sampai mati, waktu itu saya tidak sadar gus…karena didorong kesedihan yang mendalam, sehingga janji itu spontan terucap"



"meskipun isteri njenengan itu sudah dipanggil oleh Gusti Allah, dan sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi janji njenengan itu tetap janji lho. Kelihatannya janji njenengan sama almarhumah itu termasuk janji yang berat, buktinya sampai diliang lahatpun almarhumah masih tetap ingat dan….masih menagih janji itu" katanya panjang lebar. Mendengar uraian itu, aku turut menghela nafas panjang, sementara Mas Jaya terlihat berfikir sangat keras untuk bisa merenungi kata-kata yang dikeluarkan oleh gus lutfi tadi. "terus saya harus bagaimana gus, masak saya harus menghilangkan keinginan untuk berumah tangga lagi ?" katanya masgul.  " ya memang tidak gampang, wong njenengan sendiri yang sumpah didepan liang lahat almarhumah, bukan mas kaji to yang janji ?!" katanya dengan mimik yang lucu. Akupun hanya tersenyum mendengar guyonan gus lutfi tadi.



"…terus apa selamanya saya harus terbelenggu dengan janji itu gus? Maksud saya apakah saya tidak boleh lagi memadu kasih dan membina rumah tangga yang baru dengan wanita idaman saya lagi atau saya harus hidup menduda selamanya ?" kata mas Jaya sambil memandangi gus Lutfi seolah-olah meminta dukungan atas keinginannya itu. Gus Lutfi tertawa lebar, dengan arif lalu berkata " ya semua tergantung pada njenengan, wong njenengan yang bikin janji, sekarang mau tidak njenengan minta ijin pada pocongan yang menyerupai almarhumah isteri sampeyan pas ketika dia mawujud lagi" katanya dengan nada dalam dan sangat serius,  " jadi saya harus nembung pada pocongan itu ya gus untuk meminta ijin menikah lagi ?" kata mas Jaya dengan mimik ketakutan. " ya dan itu satu-satunya jalan" kata gus lutfi sambil memutar-mutarkan biji tasbihnya, kali ini tanpa senyum.



Mendengar keterangan itu,  kakak iparku terlihat resah dahinya berkerut tanda sedang berfikir hebat. Mungkin baginya lebih enak hidup menduda daripada harus meminta ijin pada sosok pocongan yang menyerupai isterinya almarhum. Iya kalau almarhumah mengerti dan memberinya ijin, kalau tidak "hiiiiiiii" katanya dengan bergidik ngeri."kapokmu kapan mas, baru kali ini sampeyan kena batunya " kataku dalam hati. Suasana lalu diam, Gus lutfi terlihat memandangi jam tangannya. Aku tahu diri, dan kemudian pamit kepada beliau.

Dengan takzim kucium tangannya sebagai tanda hormat. Gus lutfi kemudian mengelus punggungku sambil berbisik lirih "tolong mas njenengan itu disuruh sholat yang tekun, jangan bolong-bolong seperti saat ini, setelah itu perbanyak sholat taubat, taubat yang nasuha bukan tobat tomat. Mudah-mudahan diampuni dosa-dosanya" . Aku hanya mengangguk sementara kakakku masih terlihat bengong, pandangannya kosong dan hanya seperti robot ketika kubimbing untuk keluar dari rumah. Diluar,  kakakku baru sadar dan dengan terbata-bata lalu memohon diri sambil tangannya menyalami gus lutfi dengan pegangan yang lemah. Gus lutfi hanya tersenyum dengan bijak kemudian merangkul kakakku sambil membawanya kearah sepeda motor yang sudah kujagang didepan pintu pagar rumahnya. Setelah mengucap salam, kami berdua kemudian beranjak meninggalkan rumah gus lutfi.



"…piye mas? (bagaimana kak?)" kataku membuka percakapan ditengah deru motor yang mulai jauh meninggalkan rumah gus lutfi. "mbuh errrr, aku pusing (ndak tahu er, saya pusing)" kata mas jaya sambil memukul punggungku. Demikianlah cerita tentang kakakku Jaya, sampai saat ini dia masih belum berani pacaran lagi. Entah karena dia belum memiliki keberanian untuk bertemu dengan pocongan itu "face to face" atau mungkin karena dia sudah tobat atau apalah, yang jelas seperti yang sudah ditausiahkan Gus Lutfi, bahwa selama kakakku tidak neko-neko atau pacaran lagi yang ujung-ujungnya melibatkan perasaan asmara pada seorang wanita, selama itu pula  dia bebas dari gangguan pocongan yang mirip isterinya almarhum. Semoga cerita ini bisa kita gunakan sebagai cermin, bahwa kita harus hati-hati dengan lisan kita. Mulutmu harimaumu kata pepatah, jagalah agar kita terhindar dari musibah akibat omongan kita sendiri.
Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment